Rabu, 20 Februari 2013

Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza

Berawal dari postingan saya tentang manfaat, keutamaan dan kekuatan do’a, di akhir postingan tersebut saya menuliskan kalimat Jazakumullah khairan katsiran. Wa jazakumullah ahsanal jaza. Kalimat itu saya cantumkan sebagai ungkapan rasa terima kasih saya kepada teman-teman yang telah ikut mensupport untuk ikut mendoakan suami saya yang sedang sakit waktu itu dan semoga Allah SWT akan membalas kebaikan mereka semua dengan balasan yang lebih baik lagi.
Rupanya kalimat itu banyak dicari oleh para netter di search engine, terutama arti atau maknanya. Dan banyak netter yang kesasar ke postingan manfaat, keutamaan dan kekuatan do’a, dan di sana belum saya jelaskan makna dan artinya dan mungkin banyak yang kecewa karena apa yang mereka cari tidak ditemukan walau saya tidak bermaksud begitu. Oleh karenanya di kesempatan ini saya ingin menjelaskan arti dari tulisan Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza.
Jazaa = semoga memberi/menambah/membalas, ka = engkau (lelaki tunggal), Allah = Allah. Jazakallah (جَزَاكَ اللهُ) artinya “semoga Allah akan memberi/menambah/membalasmu”, ini digunakan sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikan seseorang dan sekaligus sebagai sebuah do’a semoga Allah akan membalas kebaikannya (tunggal / kamu).
Jazaa = semoga memberi/menambah/membalas, kum = kalian (jamak), Allah = Allah. Jazakumullah (جَزَاكُمُ اللهُ) artinya “semoga Allah akan memberi/menambah/membalas kalian”, ini digunakan sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikan seseorang/sekelompok orang, dan sekaligus sebagai sebuah do’a semoga Allah akan membalas kebaikan mereka (jamak/orang banyak).
Penggunaan hanya dengan kalimat Jazakallah atau Jazakumullah menurut saya masih kurang lengkap (kurang tepat) walaupun makna dan maksudnya sudah bisa dipahami sebagai ungkapan terima kasih dan sekaligus sebagai sebuah do’a semoga Allah akan membalas kebaikanya/mereka. Untuk lengkapnya setelah Jazakallah atau Jazakumullah harus ada penyebutan dalam hal apa Allah akan membalasnya. Jadi setelah Jazakallah atau Jazakumullah perlu ada kalimat berikutnya sebagai penjelasan yakni kalimat Khairan Katsiran (خَيْرًا كَثِيْرًا).
Khairan artinya kebaikan, sedangkan Katsiran artinya banyak, jadi Khairan Katsiran artinya kebaikan yang banyak. Sedangkan Ahsanal Jaza artinya balasan yang terbaik. Jadi arti dari “Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza” (جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا كَثِيْرًا وَجَزَاكُمُ اللهُ اَحْسَنَ الْجَزَاء) adalah semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan kebaikan yang banyak dan semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan balasan yang terbaik.
Hadit berikut ini mungkin bisa sedikit menjelaskan tentang dasar dari penggunaan istilah tersebut di atas. Dari Usamah bin Zaid r.a bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ
Artinya “Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan “jazaakallahu khaeron (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi).
Catatan : Mohon dikoreksi jika penjelasan saya tentang arti dari kalimat “Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza” masih kurang pas atau kurang tepat.

Selasa, 19 Februari 2013

Hikmah Larangan Bernafas Ketika Minum


(( عن ثمامة بن عبد الله، قال: كان أنس بن مالك رضي الله تعالى عنه يتنفس في الإناء مرتين أو ثلاثة مرات، وزعم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يتنفس ثلاثا )) صحيح البخاري، في الأشربة 5631
Dari Tsumamah bin Abdullah, "Dahulu Anas bin Malik radhiyallahu ta'alaa anhu pernah bernafas di dalam bejana dua kali atau tiga kali, dan dia mengira Nabi sallallahu alaihi wa sallam pernah melakukan hal itu (HR. Bukhari, No. 5631)

Dari Abu Qatadah dan bapaknya, Rasulullah bersabda, "Apabila salah seorang diantara kalian minum, maka janganlah ia bernafas di bejana (gelas), dan jika salah seorang dari kalian kencing maka janganlah ia memegang dzakar (kemaluannya) dengan tangan kanannya, jika membersihkan maka jangan membersihkan dengan tangan kanannya (HR. Bukhari 5630)

Sebagian ulama mengatakan, "Larangan bernafas di dalam bejana ketika minum sama seperti larangan ketika makan dan minum, sebab hal itu bisa menyebabkan keluarnya ludah sehingga bisa mempengaruhi kebersihan air minum tersebut. Dan keadaan ini apabila dia makan dan minum dengan orang lain. Adapun bila ia makan sendirian atau bersama keluarganya atau dengan orang yang tidak terganggu dengan caramu tersebut, maka hal itu tidak mengapa." Aku ( Imam Ibn Hajar Al-Asqalani) berkata, "Dan yang lebih bagus adalah memberlakukan larangan hadits Nabi tersebut, sebab larangan itu bukan untuk menghormati orang yang layak dihormati ataupun untuk mendapat penghargaan dari orang lain.... Berkata Imam Al-Qurthubi, "Makna larangan itu adalah agar bejana dan air tersebut tidak tercemar dengan air ludah atau pun bau yang tidak sedap". Fat-hul Bari, 10/94.

Demikianlah penjelasan para ulama kita. Para pakar kontemporer pun telah berusaha mengorek hikmah atas larangan tersebut. Mereka mengatakan, "Ini adalah petunjuk yang indah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wa sallam dalam menyempurnakan akhlaq. Dan apabila makan atau minum kemudian terpercik ludah keluar dari mulut kita, maka hal itu merupakan kekurangnya sopan santun kita, dan sebab munculnya sikap meremehkan, atau penghinaan. Dan Rasulullah adalah adalah penghulunya seluruh orang-orang yang santun dan pemimpinnya seluruh para pendidik.

Bernafas adalah aktivitas menghirup dan mengeluarkan udara; menghirup udara yang bersih lagi penuh dengan oksigen ke dalam paru-paru sehingga tubuh bisa beraktivitas sebagaimana mestinya; dan menghembuskan nafas adalah udara keluar dari paru-paru yang penuh dengan gas karbon dan sedikit oksigen, serta sebagian sisa-sisa tubuh yang beterbangan di dalam tubuh dan keluar melalui kedua paru-paru dalam bentuk gas. Gas-gas ini dalam persentase yang besar ketika angin dihembuskan, padanya terdapat sejumlah penyakit, seperti pada toksin air kencing ... Maka udara yang dihembuskan mengandung sisa-sisa tubuh yang berbentuk gas dengan sedikit oksigen. Dari hal ini kita mengetahui hikmah yang agung dari larangan Rasulullah; yaitu agar kita tidak bernafas ketika makan atau minum; akan tetapi yang dibenarkan adalah minum sebentar lalu diputus dengan bernafas di luar bejana, lalu minum kembali.

Rasulullah memberikan wejangan tentang awal yang bagus dalam perintahnya tentang memutus minum dengan bernafas sebentar-sebentar. Sebagimana sudah kita ketahui, bahwa seorang yang minum 1 gelas dalam satu kali minuman akan memaksa dirinya untuk menutup/menahan nafasnya hingga ia selesai minum. Yang demikian karena jalur yang dilalui oleh air dan makanan dan jalan yang dilalui oleh udara akan saling bertabrakan, sehingga tidak mungkin seseorang akan bisa makan atau minum sambil bernafas secara bersama-sama. Sehingga tidak bisa tidak, ia harus memutus salah satu dari keduanya. Dan ketika seseorang menutup/menahan nafasnya dalam waktu lama, maka udara di dalam paru-paru akan terblokir, maka ia akan menekan kedua dinding paru-paru, maka membesar dan berkuranglah kelenturannya setahap demi setahap.

Dan gejala ini tidak akan terlihat dalam waktu yang singkat. Akan tetapi apabila seseorang membiasakan diri melakukan ini (minum dengan menghabiskan air dalam satu kali tenggakan) maka ia akan banyak sekali meminum air, seperti unta, dimana paru-parunya selalu terbuka.... Maka paru-paru akan menyempitkan nafasnya manakala ia sedikit minum air, maka kedua bibirnya kelu dan kaku, dan demikian juga dengan kukunya. Kemudian, kedua paru-parunya menekan jantung sehingga mengalami dis-fungsi jantung (gagal jantung), kemudian membalik ke hati, maka hati menjadi membesar (membengkak), kemudian sekujur tubuh akan menggembur. Dan Demikianlah keadaannya, sebab kedua paru-paru yang terbuka merupakan penyakit yang berbahaya, sampai para dokter pun menganggapnya lebih berbahaya daripada kanker tenggorokan.

Dan Nabi Sallallahu alaihi wassallam tidak menginginkan seorangpun dari ummatnya sampai menderita penyakit ini. Oleh karena itu, beliau menasihati ummatnya agar meminum air seteguk demi seteguk (antara dua tegukan dijeda dengan nafas), dan meminum air 1 gelas dengan 3 kali tegukan, sebab hal ini lebih memuaskan rasa dahaga dan lebih menyehatkan tubuh (Lihat Al-Haqa'iq Al-Thabiyyah fii Al-Islam, secara ringkas)
 
Sumber: Al-Arba'in Al-Ilmiah, Abdul Hamid Mahmud Thahmaaz

Jumat, 11 September 2009

agar doa yang didengar dan dikabulkan Allah SWT

Agar do’a didengar dan dikabulkan oleh Allah
Sobat, setiap hamba mengharapkan do’anya dikabulkan oleh Allah. Oleh karena itu, hendaklah kita berdo’a sesuai dengan syarat dan adab berdo’a sebagaimana mestinya. Adapun tatacara atau adab dalam berdo’a adalah sebagai berikut sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin :
1. Dilakukan pada waktu yang mulia, seperti pada hari Arafah, hari jum’at, bulan ramadhan, sepertiga malam, dll.
2. Dilakukan dalam keadaan yang khidmat, seperti pada waktu sujud, sebelum dan setelah sholat wajib.
3. Menghadap kiblat
4. Ketika berdo’a, hendaklah dimulai dengan memuji Allah Swt kemudian diiringi dengan sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad Saw. Dan diakhiri dengan keduanya.
5. Hendaklah membaca syahadat dan memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang dilakukan baik sengaja maupun tdak.
6. Berdo’a dengan merendahkan diri penuh harap dan menggunakan bahasa yang sederhana serta suara yang lemah lembut sebagaimana disebutkan dalam Qs Al-A’raf ayat 55.
7. Bersabar dalam do’a, tidak bosan, dan putus asa.
8. Jika seseorang berdo’a untuk orang lain, hendaklah dia berdo’a untuk dirinya terlebi dahulu, baru kemudian mendo’akan orang lain.
9. Berdo’a dengan bertawassul menggunakan nama-nama Allah Swt yang mulia dan sifat-Nya Yang Maha Tinggi atau dengan amal sholeh.
10. Hendaklah ketika berdo’a itu dalam keadaan suci, memakai pakaian yang bersih, serta mengonsumsi makanan dan minuman yang halal. Rasulullah Muhammad Saw bersabda, “Tidak akan masuk surga setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram.”( HR. Ahmad dan Darimi dari Jabir bin Abdullah)
Selain mengetahui dan memperhatikan adab do’a di atas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar do’a diijabah oleh Allah, antara lain :
• Berdo’a dengan penuh keikhlasan : Ingatlah kisah Nabi Yunus yang diabadikan di dalam surat Al-Anbiya’ ayat 87-88. Nabi Yunus dengan penuh keikhlasan memohon dan mengharap pertolongan Allah, sehingga Allah berkenan mengabulkan do’anya dan menyelamatkannya setelah sekian lama berada dalam perut ikan.
• Berdo’a dengan penuh keyakinan : Seseorang harus yakin ketika berdo’a, Hanya do’a yang diiringi dengan penuh keyakinan dan harap yang akan dikabulkan oleh Allah. Yakin bahwa Allah mendengar do’anya, yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’anya. Jika do’a-do’anya tidak kunjung terkabulkan setelah serkian lama, ia harus tetap yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik baginya.
• Berdo’a hanya kepada Allah : Do’a adalah wujud dari ketaatan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Oleh karena itu, ia hanya patut berdo’a kepada Allah. Hanya kepada-Nya ia meminta hajat hidup, memohon perlindungan dari bahya dan musibah serta mengadu dan berkeluh kesah. Karena Allah Zat Yang Maha Mendengar, Maha Berkuaa, dan Maha berkehendak. Tiada daya dan upaya kecuali atas izin dan perkenan-Nya.
• Husnu Dzan ( berbaik sangka) kepada Allah : Orang yang berdo’a harus berbaik sangka kepada Allah. Karena Allah yang lebih memahami hakekat keinginannya. Bila do’anya tidak juga terkabul, ia harus tetap berprasangka baik kepada Allah.Tidak boleh berburuk sangka dan berpikir negative, apalgi marah –marah dan berkat keji. Ketika berdo’a, seseorang harus sabar. Karena Allah lebih tahu kapan saat yang paling tepat untuk mengabulkan do’a hamba-Nya. Rasulullah Saw . besabda bahwa Allah Swt berfirman, “Aku menurut prasangka hamba-Ku atas diri-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdo’a kepada-Ku” ( HR. Muslim)
• Memperbanyak amal sholeh. Penyebab utama terangkat dan diterimanya do’a adalah amal sholeh. Do’a merupakan perkataan yang baik. Perkataan yang baik diangkat ke hadapan Allah. Untuk mengangkatnya diperlukan amal sholeh. Salah satu bentuk amal sholeh adalah shodaqoh. Shodaqoh terbukti secara empiris mampu menangkal bala dan musibah. Orang yang gemar bershodaqoh akan dijauhkan oleh Allah dari bahaya dan musibah. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan suatu kaum akan ditimpakan musibah pemimpin yang dzalim dan do’a orang-orang sholeh tidak dikabulkan oleh Allah SWT kalau di dalamnya tidak ada orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Semoga kita semuan menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa bersyukur dan sabar untuk selalu berjuang menegakkan Agama Allah di muka bumi ini.